.

Pria Rp 3.000 T Ini Sangat Ditakuti AS, Disebut Anjing Gila dari Arab

Potret Pemimpin Libya Kolonel Muammar Gaddafi diambil pada tahun 1978. Foto: ist

Dunia – Tepat hari ini 54 tahun lalu, sejarah dunia mencatat ada tokoh Muslim dari Libya yang jadi penguasa negara. Dia adalah Muammar Khadafi, yang berkuasa usai menggulingkan kekuasaan Raja Idris I pada 1 September 1969.

Kemunculan Khadafi sebagai Presiden Libya seketika mengagetkan publik. Bukan soal caranya meraih kekuasaan, tetapi soal kegarangan Khadafi terhadap negeri Barat, khususnya Amerika Serikat (AS) dan sekutunya.

Tidak tanggung-tanggung, tak lama setelah dilantik, dia langsung mengusir militer AS dan Inggris dari tanah Libya. Ia juga melakukan nasionalisasi seluruh perusahaan asing.

BACA JUGA:  Pemilik WhatsApp, Instagram & Facebook Kalah di Pengadilan Terakhir Soal Privasi

Menurut Alison Pargeter dalam Libya: The Rise and Fall of Qaddafi (2012), Khadafi juga ingin menyatukan dunia Arab menjadi satu negara berdaulat lewat gagasan “nasionalisme Arab”. Tentu saja, gagasan ini ditolak mentah-mentah oleh banyak pemimpin kawasan itu.

Meski begitu, bagi Khadafi, gagasan nasionalisme Arab harus diwujudkan sebagai upaya kemerdekaan Palestina. Dalam riset “Terrorism and Libya Foreign Policy” (1986), Ronald Bruce menyebut kalau Palestina di mata Khadafi adalah bagian integral dari dunia Arab.

BACA JUGA:  Pinggang Super Ramping Kim Kardashian di Met Gala 2024 Disorot

Maka, sebagai upaya mewujudkan itu, Khadafi ingin menghancurkan musuh-musuhnya terutama AS dan Israel. Dia menyumbang dana dan persenjataan untuk organisasi kemerdekaan Palestina, yang dianggap berbahaya oleh Barat.

Penulis: CNBCIndonesiaEditor: Dahlan