Bulan Syawal, Asal-usul dan Berpuasa 6 Hari

Tgk Helmi Abu Bakar El-langkawi MPd. Foto: Ist

BULAN Ramadan telah berlalu dan meninggalkan kita. Hendaknya perginya Ramadan jangan sampai tanpa meninggalkan bekas dan peningkatan kualitas dan kuantitas ibadah kita pasca Ramadan. Seorang Muslim hendaknya pasca Ramadan tepatnya bulan Syawal hendaknya tetap istiqamah dalam beribadah dan kita jadikan Syawal sebagai bulan meningkatkan pembendaharaan pahala, baik lewat silaturahmi dan ibadah lainnya.

Keberadaan bulan Syawal adalah bulan setelah Ramadhan. Menurut Ibnul ‘Allan Asy Syafii, penamaan bulan Syawal diambil dari kata Syalat Al Ibil yang artinya unta yang menegakkan ekornya. Wajah tasmiah (indikator) dinamakan demikian karena dulu orang Arab menggantung alat-alat perang mereka di bulan ini, sebab sudah dekat dengan bulan-bulan haram (yang dilarang untuk berperang).

Di masa Rasulullah, ada banyak ibadah yang disunnahkan untuk dilakukan di bulan ini dan bukan hanya puasa Syawal. Puasa Syawal memiliki banyak keutamaan dalam Islam. Salah satu keutamaan puasa Syawal adalah dijanjikan memperoleh pahala seakan-akan berpuasa setahun penuh.

BACA JUGA:  Gampong Rheuem Timur Bireuen Santuni Yatim dan Piatu

Apabila seorang muslim berpuasa Ramadan, kemudian dilanjutkan berpuasa 6 hari pada Syawal, ganjarannya seperti ia berpuasa setahun penuh. Hal ini dijelaskan dalam sebuah riwayat hadis dari jalur Abu Ayyub Al-Anshory bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda sebagai berikut: “Siapa yang berpuasa Ramadan kemudian berpuasa 6 hari pada Syawal, maka dia bagai berpuasa setahun penuh,” (H.R. Muslim).

Penulis: Kandidat Doktor UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Guru Dayah MUDI Mesjid Raya Samalanga dan Dosen IAIA Samalanga serta Ketua PC Ansor Pidie Jaya.Editor: DahlanSumber Berita